
Suasana Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, dipenuhi antusiasme warga pada Sabtu, 1 Agustus 2026, saat masyarakat bersama mahasiswa P2M Universitas Islam Al-Amien (UNIA) Prenduan menyaksikan tradisi arak-arakan pengantin menggunakan Jaran Serek (kuda menari). Sepasang pengantin diarak menggunakan kuda yang dihias dengan ornamen khas Madura, menyusuri jalan desa hingga tiba di kediaman Kepala Desa Lobuk. Setibanya di lokasi, kemeriahan semakin terasa dengan iringan musik tradisional Saronen dan atraksi kuda yang bergerak mengikuti irama musik. Tradisi dilanjutkan dengan saweran sebagai ungkapan syukur dan berbagi kebahagiaan bersama masyarakat. Kehadiran mahasiswa P2M UNIA Prenduan menjadi bagian dari upaya mengenal, mendokumentasikan, dan turut melestarikan kearifan lokal masyarakat Madura agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Suasana sore hari di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, mendadak riuh dan dipenuhi antusiasme warga pada Sabtu 01 Agustus 2026. Pasalnya, ribuan pasang mata masyarakat setempat bersama mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Islam Al-Amien (UNIA) Prenduan berkumpul untuk menyaksikan langsung kemeriahan tradisi arak-arakan pengantin menaiki Jaran Serek (kuda menari).
Rangkaian acara diawali menjelang senja. Sepasang pengantin tampil anggun berbalut busana adat pengantin khas Sumenep, diarak megah di atas kuda pilihan yang dihiasi ornamen janur, bunga, dan kain warna-warni bernuansa cerah. Iring-iringan pengantin menyusuri jalanan desa sembari disambut hangat oleh warga yang berjejer di sepanjang jalan, menciptakan suasana hangat di bawah rindangnya hangat matahari sore.
Puncak prosesi adat bertempat di kediaman Kepala Desa Lobuk. Dipilihnya kediaman Kepala Desa bukan tanpa alasan. Dalam tatanan sosial dan kebudayaan masyarakat Madura, sosok kepala desa atau Panggi/Klebun berkedudukan sebagai pengayom masyarakat sekaligus tokoh sentral pemangku adat desa. Kediaman kepala desa memiliki halaman yang luas dan dipandang sebagai "rumah bersama" milik seluruh warga. Menjadikan kediaman tokoh nomor satu di desa ini sebagai titik akhir serta pusat perayaan bukan hanya bentuk penghormatan (sowan dan restu pembina wilayah), melainkan juga simbol sinergi, penghormatan atas perlindungan pemimpin, serta sarana mempererat ikatan silaturahmi antara pihak keluarga, perangkat desa, dan seluruh warga Lobuk.
Setibanya rombongan pengantin di halaman rumah Kepala Desa, atmosfer kemeriahan semakin membuncah. Diiringi alunan instrumen musik Saronen yang dinamis dan ketukan kendang yang ritmis, kuda-kuda gagah yang membawa pengantin mulai menunjukkan atraksi memukau. Kuda-kuda tersebut melangkah anggun, meliuk-liuk, dan menganggukkan kepala secara presisi seirama dengan alunan musik tradisional khas Madura.
Kemeriahan sore itu kian hangat saat memasuki sesi tradisi saweran. Dari atas panggung dan sela-sela atraksi kuda, pihak keluarga bersama tokoh desa melemparkan uang kertas dan bunga ke udara sebagai ungkapan rasa syukur, kegembiraan, serta bentuk berbagi keberkahan dengan sesama. Anak-anak hingga orang dewasa antusias bersorak dan bersuka ria meramaikan momen tersebut.
Kehadiran mahasiswa P2M UNIA Prenduan dalam kegiatan adat ini menjadi bagian dari fokus pengabdian untuk mendokumentasikan serta mengkaji kearifan lokal daerah setempat. Keterlibatan aktif mahasiswa UNIA Prenduan diharapkan mampu menjembatani kelestarian budaya tradisional Madura agar tetap hidup, dikenal luas, dan diwariskan kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.


