Sejarah Desa
Berdasarkan cerita (pitutur) masyarakat Errabu, keberadaan "Sumur Bhato" berkaitan erat dengan kisah hidup Pangeran Jokotole; salah satu Raja Sumenep yang sangat legendaris. Di masa mudanya, beliau sering berkelana dengan menyamar seperti rakyat biasa. Konon, dalam perjalanannya, Pangeran Jokotole menunggang kuda bersama istri tercintanya; RA. Dewi Ratnadi yang merasa kehausan dan meminta untuk dicarikan air. Pangeran Jokotole segera mencari air disekitar namun tidak menemukan sambil melanjutkan perjalanannya ke arah barat. Sampailah mereka berdua ke Dasa Errabu. Rasa haus terus menekan tenggorokan RA. Dewi Ratnadi. Kembali ia meminta air kepada suami tercintanya. Pangeran Jokatole tak tahan melihat istrinya sangat kehausan. Beliau berusaha mencari air ke sekelilingnya, tapi tetap tak menemukannya. Beliau meminta tongkat milik RA. Dewi Ratnadi dan berikhtiar untuk menemukan mata air dengan cara menancapkan tongkatnya ke hamparan batu. Dengan seizin Allah SWT., keluarlah mata air dengan derasnya. Serta merta Pangeran Jokotole merasa gembira dan mengatakan "AENG RABU" (air telah datang). Betapa gembiranya pula RA. Dewi Ratnadi, beliau langsung minum dengan puas. Sejak saat itulah, masyarakat menyebut nama desa ini dengan "AENG RABU" dan akhirnya berubah menjadi ERRABU. Berdasarkan cerita rakyat tersebut, besar kemungkinan penamaan Desa Errabu dimulai sejak pemerintahan Pangeran Jokotole/Arya Jaran Panole (Adipati Sumenep Tahun 1415-1460 M)



