Berita Desa

Menyusuri Hamparan Tembakau, Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Belajar Langsung dari Petani Dusun Panggulan

Kamis, 30 Juli 2026 Desa Kadura Timur
Menyusuri Hamparan Tembakau, Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Belajar Langsung dari Petani Dusun Panggulan

Di balik hamparan hijau tembakau Dusun Panggulan, mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan belajar langsung dari para petani mengenai proses budidaya, tantangan di lapangan, hingga nilai ekonomi yang menjadi penopang kehidupan masyarakat Desa Kaduara Timur.

Kaduara Timur – Hamparan tanaman tembakau yang menghijau menjadi pemandangan yang menyambut langkah mahasiswa Praktik Pemberdayaan Masyarakat (P2M) Universitas Al-Amien Prenduan saat mengunjungi lahan pertanian di Dusun Panggulan, Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Kamis (30/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi desa melalui sektor pertanian yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat.

Di tengah aktivitas para petani yang sedang memeriksa kondisi tanaman, mahasiswa P2M berkesempatan berdialog secara langsung dengan Bapak Ma'ruf dan Bapak Zulfa. Percakapan berlangsung hangat di sela-sela hamparan kebun tembakau, membahas berbagai hal mulai dari proses penanaman, perawatan tanaman, hingga hasil panen yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga mereka.

Menurut penuturan kedua petani tersebut, budidaya tembakau memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Tanaman tembakau hanya dipanen satu kali dalam setahun dengan masa perawatan sekitar tiga bulan sejak penanaman hingga siap dipanen. Selama masa tersebut, petani harus memastikan kondisi tanaman tetap terjaga agar menghasilkan daun tembakau yang berkualitas dan memiliki nilai jual yang baik.

Selain perawatan rutin, kebutuhan pupuk dan air menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya. Para petani menggunakan pupuk urea dan pupuk PPK untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Sementara itu, proses penyiraman dilakukan sekitar satu kali setiap minggu dengan memanfaatkan air yang diperoleh melalui sistem sewa pompa atau sumber air. Untuk setiap jam penggunaan air, petani mengeluarkan biaya sekitar Rp25.000.

"Panen tembakau dilakukan satu kali dalam setahun. Tanaman membutuhkan perawatan sekitar tiga bulan sebelum siap dijual. Kami menggunakan pupuk urea dan PPK, serta menyiram tanaman seminggu sekali dengan membeli air sekitar Rp25 ribu per jam. Jika hasil panennya bagus, pendapatan bisa mencapai sekitar Rp10 juta per petak," tutur Bapak Ma'ruf dan Bapak Zulfa.

Lebih lanjut, keduanya menjelaskan bahwa hasil panen yang optimal dapat menghasilkan pendapatan hingga sekitar Rp10 juta untuk setiap petak lahan. Namun, besarnya pendapatan tersebut tidak selalu sama setiap musim. Kondisi cuaca, serangan hama, kualitas daun tembakau, hingga fluktuasi harga di pasaran menjadi faktor yang sangat menentukan nilai jual hasil panen.

Bagi mahasiswa P2M, kunjungan ini tidak hanya menjadi sarana untuk mengumpulkan informasi, tetapi juga kesempatan belajar secara langsung dari pengalaman para petani yang telah bertahun-tahun mengelola lahan tembakau. Berbagai cerita yang dibagikan memberikan gambaran nyata mengenai proses panjang di balik komoditas tembakau yang selama ini menjadi salah satu penggerak roda perekonomian masyarakat Desa Kaduara Timur.

Melalui kegiatan observasi lapangan ini, mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan berharap dapat memahami potensi lokal desa secara lebih komprehensif. Pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal dalam merancang program pemberdayaan yang selaras dengan kondisi masyarakat, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap peran petani yang terus menjaga keberlangsungan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi desa.

Kembali ke Berita Diperbarui 30 Juli 2026