
Mahasiswa P2M Universitas Al-Amien Prenduan Posko 2 Desa Sentol Daya mewawancarai Bapak Rahma Misra'i pada Kamis, 16 Juli 2026, mengenai proses pembuatan tikar dari daun siwalan. Beliau menjelaskan bahwa pembuatan tikar memerlukan keterampilan, tenaga, dan waktu yang cukup lama, mulai dari memotong daun, menjemur, hingga merangkainya menjadi tikar. Kerajinan ini tidak hanya menjadi warisan budaya Desa Sentol Daya, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat di tengah tantangan ekonomi.
Sentol Daya, Kamis, 16 Juli 2026 – Mahasiswa Praktik Pemberdayaan Masyarakat (P2M) Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA) Posko 2 Desa Sentol Daya melaksanakan wawancara dengan salah satu warga setempat, Bapak Rahma Misra'i, mengenai proses pembuatan tikar berbahan dasar daun siwalan. Wawancara dilaksanakan pada Kamis, 16 Juli 2026, pukul 16.30 WIB, saat beliau sedang menjemur daun siwalan sebagai bagian dari proses pembuatan tikar.
Dalam kesempatan tersebut, Bapak Rahma Misra'i menjelaskan bahwa pembuatan tikar dari daun siwalan merupakan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan, kesabaran, serta tenaga yang tidak sedikit. Prosesnya diawali dengan memotong daun siwalan langsung dari pohonnya. Setelah itu, daun dijemur hingga benar-benar kering sebelum dirangkai menjadi tikar. Seluruh tahapan tersebut memerlukan waktu yang cukup lama agar menghasilkan tikar yang kuat dan berkualitas.
Beliau juga mengungkapkan bahwa proses pengambilan bahan baku menjadi salah satu tantangan terbesar karena harus memanjat pohon siwalan yang cukup tinggi. Menurutnya, pekerjaan tersebut lebih cocok dilakukan oleh kalangan muda yang memiliki kondisi fisik lebih kuat.
Dalam wawancara tersebut, Bapak Rahma Misra'i mengatakan, "Prosesnya rumit dan butuh tenaga ekstra, jadi harusnya bisanya dilakukan anak muda karena harus manjat untuk motong daunnya. Setelah itu dijemur, ngerakitnya juga butuh waktu yang lama. Jadi kalau bukan karena ekonomi melemah, orang pasti mikir dua kali untuk membuatnya."
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kerajinan tikar daun siwalan tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Desa Sentol Daya, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghasilan bagi sebagian warga di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Melalui kegiatan wawancara ini, mahasiswa P2M berharap dokumentasi mengenai proses pembuatan tikar daun siwalan dapat menjadi upaya pelestarian kerajinan tradisional sekaligus memperkenalkan potensi lokal Desa Sentol Daya kepada masyarakat luas.


