Berita Desa

Bertahan Delapan Tahun, Lontong Urap Ibu Asiani Jadi Potret Ketangguhan UMKM Desa Tanjung

Senin, 20 Juli 2026 Desa Tanjung
Bertahan Delapan Tahun, Lontong Urap Ibu Asiani Jadi Potret Ketangguhan UMKM Desa Tanjung

Peserta P2M Kelompok 6 Universitas Al-Amien Prenduan melakukan observasi terhadap usaha Lontong Urap milik Ibu Asiani, pelaku UMKM di Desa Tanjung yang telah bertahan selama delapan tahun. Melalui wawancara dan pengamatan langsung, peserta menggali informasi mengenai perjalanan usaha, proses produksi, serta potensi pengembangannya sebagai bagian dari pemetaan aset berbasis pendekatan ABCD. Hasil observasi menunjukkan bahwa UMKM lokal memiliki peluang besar untuk berkembang melalui inovasi produk, pengemasan, dan pemasaran digital.

Bertahan Delapan Tahun, Lontong Urap Ibu Asiani Jadi Potret Ketangguhan UMKM Desa Tanjung

Desa Tanjung, 20 Juli 2026 – Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, ketekunan menjadi modal penting bagi pelaku usaha kecil untuk tetap bertahan. Hal itu tercermin dari perjalanan Ibu Asiani, warga RT 09 Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, yang selama kurang lebih delapan tahun konsisten menjalankan usaha kuliner tradisional lontong urap. Potret ketekunan tersebut menjadi perhatian peserta Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Kelompok 6 Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA Prenduan) saat melakukan observasi lapangan terhadap salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Tanjung, Senin (20/7/2026).

Dalam kegiatan tersebut, peserta P2M menggali informasi mengenai perjalanan usaha, proses produksi, kondisi penjualan, serta potensi pengembangan usaha kuliner tradisional sebagai bagian dari pemetaan aset dan potensi ekonomi lokal Desa Tanjung. Setiap hari, Ibu Asiani mulai berjualan sejak pagi hingga menjelang siang. Dengan menjaga cita rasa dan kualitas produk, lontong urap yang dijualnya hampir selalu habis sebelum waktu berjualan berakhir. Dalam kondisi normal, omzet penjualan yang diperoleh berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per hari, bergantung pada jumlah produk yang diproduksi dan tingkat penjualan.

“Pendapatannya tidak menentu, tergantung berapa banyak saya membuat lontong urap. Kalau jualannya habis, biasanya bisa dapat sekitar dua ratus sampai tiga ratus ribu rupiah sehari,” ungkap Ibu Asiani saat berbincang dengan peserta P2M.

Bagi peserta P2M, usaha lontong urap tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi rumah tangga. Usaha yang telah bertahan selama delapan tahun itu menunjukkan adanya aset ekonomi lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Konsistensi produk, pengalaman usaha, cita rasa tradisional, serta keberadaan pelanggan menjadi modal sosial dan ekonomi yang penting bagi keberlanjutan usaha.

Hasil observasi ini menjadi bagian dari upaya peserta P2M Kelompok 6 dalam memetakan potensi dan aset Desa Tanjung melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam merancang program pemberdayaan yang tidak hanya berangkat dari persoalan masyarakat, tetapi juga dari potensi yang telah dimiliki dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Melalui kegiatan ini, peserta P2M memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi UMKM lokal sekaligus peluang pengembangannya. Ke depan, potensi tersebut dapat dikembangkan melalui penguatan kapasitas pelaku usaha, inovasi produk, pengemasan, serta strategi pemasaran yang lebih luas dengan memanfaatkan media digital.

Dari sepiring lontong urap, peserta P2M menemukan lebih dari sekadar potensi kuliner. Mereka menemukan cerita tentang ketekunan, kemandirian, dan aset ekonomi lokal yang selama ini tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat Desa Tanjung.

Kembali ke Berita Diperbarui 20 Juli 2026