
Peserta P2M Kelompok 6 Universitas Al-Amien Prenduan melakukan wawancara lanjutan dengan Ibu Asiani untuk memetakan keragaman aset ekonomi keluarga melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Hasil wawancara menunjukkan bahwa keluarga Ibu Asiani mengandalkan berbagai sumber penghidupan, mulai dari usaha kuliner, perikanan, hingga pertanian. Temuan ini menjadi dasar bagi peserta P2M dalam merancang program pendampingan yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Tanjung, khususnya dalam mendukung keberlanjutan UMKM dan penguatan ekonomi lokal.
Desa Tanjung, 22 Juli 2026 – Setelah sebelumnya melakukan observasi terhadap usaha lontong urap milik Ibu Asiani, peserta Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Kelompok 6 Universitas Al-Amien Prenduan kembali mengunjungi kediamannya di RT 09 Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Rabu (22/7/2026).
Kunjungan lanjutan tersebut dilakukan untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai aktivitas ekonomi keluarga serta potensi yang dimiliki sebagai bagian dari pemetaan aset masyarakat melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD).
Melalui wawancara tersebut, peserta P2M memperoleh informasi bahwa Ibu Asiani tidak hanya mengandalkan usaha lontong urap. Ia juga menjual berbagai jenis gorengan dan kue basah serta menerima pesanan makanan. Keberagaman produk tersebut menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.
Sementara itu, suami Ibu Asiani bekerja sebagai nelayan. Hasil tangkapan ikan, terutama ikan belena, dijual ke pasar ketika hasil tangkapan cukup banyak. Sebagian lainnya dipasarkan kepada warga sekitar yang telah melakukan pemesanan.
Selain usaha kuliner dan perikanan, keluarga tersebut juga memanfaatkan lahan pertanian sebagai sumber penghasilan tambahan. Lahan tersebut ditanami secara bergantian dengan tembakau, jagung, dan kacang hijau sesuai dengan musim dan kondisi pertanian.
“Kami berusaha semampunya. Kalau musim tembakau selesai, lahannya ditanami jagung, lalu kacang hijau. Suami juga mencari ikan kalau cuaca memungkinkan. Yang penting masih bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,†tutur Ibu Asiani.
Meskipun kini hanya tinggal berdua karena anak-anaknya telah merantau, Ibu Asiani dan suaminya tetap berusaha memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, peserta P2M juga berdiskusi mengenai peluang pengembangan hasil tangkapan ikan menjadi produk bernilai tambah, seperti bakso ikan atau pentol ikan. Namun, Ibu Asiani menyampaikan bahwa saat ini dirinya belum berencana mengembangkan usaha tersebut karena keterbatasan tenaga.
“Dulu saya pernah membuat dan menjual olahan seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak sanggup lagi karena usia sudah bertambah dan tenaga tidak seperti dulu,†ujarnya.
Bagi peserta P2M, hasil wawancara tersebut memberikan gambaran bahwa aset ekonomi masyarakat Desa Tanjung tidak berdiri sendiri. Dalam satu keluarga, potensi kuliner, perikanan, dan pertanian dapat menjadi sumber penghidupan yang saling melengkapi.
Melalui pendekatan ABCD, peserta P2M berupaya memahami potensi yang telah dimiliki masyarakat sebelum merancang bentuk pendampingan. Dengan demikian, program pemberdayaan dapat disesuaikan dengan kondisi, kemampuan, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pemetaan aset ekonomi masyarakat Desa Tanjung. Informasi yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar bagi peserta P2M dalam merancang program pendampingan yang lebih tepat sasaran, khususnya dalam mendukung keberlanjutan UMKM dan penguatan kemandirian ekonomi masyarakat.


