Kaduara Barat
Larangan, Pamekasan

Kaduara Barat

#

6 Berita
7 Galeri
3 Potensi
1 Kelompok
11 Anggota

Data Kependudukan

Statistik demografi

Total Penduduk

4.314

Kepala Keluarga

0

Rata-rata / KK

0

Jumlah Dusun

10

Komposisi Jenis Kelamin

4314Total
Laki-laki 49%
Perempuan 51%

2.094

Laki-laki (49%)

2.220

Perempuan (51%)

Komposisi Usia Penduduk

Balita (0-5)412Pemuda (16-30)1125Lansia (60+)716

412

Balita (0-5)

1.125

Pemuda (16-30)

716

Lansia (60+)

Tentang Desa

Profil Desa

Sejarah, visi-misi, dan wajah pemerintahan desa dalam satu rangkuman

Sejarah Desa

Setiap sejarah memiliki makna yang mendalam bagi generasi penerusnya yang pada biasanya akan dijadikan tonggak perjuangan untuk menggapai masa depan yang lebih baik lagi. Pemaknaan yang demikian luhur tersebut tentu tidak lepas dari ketinggian penghayatan terhadap makna sejarah generasi terdahulu. Begitu pula sebaliknya, apalah artinya sebuah lintasan sejarah bila tidak dihargai dan ditempatkan dengan semestinya, hanyalah akan menjadi sebuah onggokan prasasti kuno tanpa pamor seikitpun. Keduanya berkait-kelindan tanpa membedakan mana yang lebih baik dari keduanya. Sebagai desa yang terletak di ujung timur Kecamatan Larangan, sejarah Desa Kaduara Barat memiliki keistimewaan tersendiri bagi warganya apalagi posisinya berada di wilayah perbatasan dengan kabupaten Sumenep. Letak geografis desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sumenep menunjukkan kedekatan sejarah dengan babat kerajaan sumenep pada jaman Kerajaan dahulu. Sejak abad XVII, Pulau Madura dikuasai dua kerajaan yaitu kerajaan yang berpusat di Bangkalan untuk daerah barat, sedangkan kawasan timur madura dikuasai Kerajaan Sumenep, yang kedua-duanya bernaung di bawah kerajaan Mataram, Kediri. Sebagai dua tetangga kerajaan di Madura apalagi masih ada bubungan kerabat dan famili, kedua kerajaan tersebut hidup rukun dan terjalin kerjasama yang kuat dalam segala hal Hubungan yang harmonis dua kerajaan Madura tersebut membekas dalam sejarah desa Kaduara Barat. Konon, setiap raja sumenep melakukan lawatan ke wilayah barat atau perjalanan ke tanah jawa, beliau akan beristirahat dulu di suatu daerah yang pada akhirnya dinamai dengan sebutan “sangghre’en”. Sangghre’en merupakan tempat peristirahatan yang dalam bahasa Indonesia tidak lain adalah pesanggrahan. Tempat tersebut tidak semewah villa jaman sekarang. Bangunannya cukup sederhana yaitu hanya berupa bangunan dari kayu seadanya dengan balai-balai dari bambu dan atapnya dari rajutan daun pohon kelapa. Tempatnya teduh dan cukup nyaman untuk sekedar melepas lelah. Sedangkan kendaraan raja dan para pengawalnya, yaitu berupa seekor kuda akan ditambatkan seperti biasa di bawah pohon palembang. Keadaan tersebut berlangsung lama dan tempat tersebut dirawat oleh warga setempat sebagai bentuk pengabdian pada rajanya, hingga pada akhirnya rusak dan musnah ditelan perkembangan jaman. Di jaman kemerdekaan tempat tersebut masih akrab dengan sebutan sangghre’en dan menjadi nama pasar yang jam operasinya pada waktu sore yang posisinya berada di kawasan peristirahatan raja tersebut. Legenda penamaan desa juga tidak lepas dari sejarah masa kerajaan Sumenep dan Bangkalan. Legenda yang tersebar luas dalam masyarakat, bahwa pada masa-masa harmonisnya kedua kerajaan itu dilanda fitnah sehingga mucullah perseteruan yang sengit dan harus diakhiri dengan perang saudara. Alkisah, ketika kedua pihak sama-sama tersulut api amarah, keduanya mengirimkan seluruh kekuatan angkatan perangnya untuk menebus penghinaan yang dihembuskan fitnah oleh pihak ketiga itu. Ketika kedua bala tentara hampir sampai pada jarak serang yang begitu dekat sekali yaitu sekitar 500 meter, maka panglima perang keduanya sama-sama maju untuk membuat kesepakatan mengenai batasan-batasan atau aturan main peperangan. Walhasil, karena kedua panglima tersebut memang terikat hubungan emosional yang erat seperti layaknya saudara kandung, di akhir perundingan kedua sahabat kental itu sama-sama membuka tabir fitnah yang menimpa rajanya masing-masing tentang apa yang menjadi penyebab perseteruan tersebut. Betapa geram dan herannya kedua bala tentara yang dengan pedang terhunus dan amarah perang yang memuncak menyaksikan panglima perangnya berunding cukup lama dan diakhiri dengan tertawa terpingkal-pingkal. Lebih terkejutnya lagi, ternyata kedua panglima perang itu telah bersepakat menggagalkan peperangan tanpa setetes darah pun yang mengalir. Keduanya menjelaskan akar persoalan yang menjadi pemicu peperangan kepada prajuritnya masing-masing yaitu kesalahpahaman yang disebarkan oleh pihak lain yang ingin mengadu domba kedua kerajaan Madura tersebut. Akhirnya kedua angkatan perang tersebut berhamburan dan saling rangkul dengan harunya sampai-sampai meneteskan air mata kedamaian. Kobaran api perang yang membara itu telah dipadamkan dengan tetesan air mata mereka sendiri. Dan pulanglah mereka dengan membawa kemenangannya masing-masing. Konon, di tempat bersejarah itulah masyarakat menyebutnya dengan dhuarah atau addhu arah. Yaitu tempat berpadunya dua arah. Artinya, di tempat tersebut pernah terjadi perpaduan atau sinergi antara dua pihak yang berlawanan arah dan melebur menjadi suatu kekuatan perdamaian abadi. Dari situlah kemudian tempat itu lazim disebut kadhuarah atau kaduara. Dan pada jaman pemerintahan belanda, kaduara dibelah oleh garis teritorial menjadi Desa Kaduara Barat di bawah naungan Kadipaten Pamekasan dan Desa Kaduara Timur menjadi bawahan Kadipaten Sumenep. Seperti yang telah disinggung pada uraian sebelumnya, sejarah pemerintahan Desa Kaduara Barat telah dimulai pada masa kejayaan Kerajaan Sumenep. Kepala desa yang semula disebut Demang diganti menjadi Klebun pada masa kemerdekaan. Kebetulan yang memimpin dan menjadi kepala Desa di Kaduara masih keturunan terah Ki Demang Tambak Yudo hingga saat ini. Konon Ki Demang Tambak Yudo punya kesaktian dan kewibawaan saat memimpin kedemangan kaduara barat. pesarehannya ada di desa Kaduara Timur dusun Duwa’ Daging tepatnya pemakaman Umum Kapasan.

Luas Wilayah
0 Dusun
Kepala Keluarga

Perangkat Desa

2 pejabat
Ali Sidik Asmoroyudo

Ali Sidik Asmoroyudo

Kepala Desa

Jufri Hamidi

Jufri Hamidi

Sekretaris Desa

Jelajahi Profil Lengkap

Struktur pemerintahan, wilayah, hingga kontak desa — satu halaman.

Galeri Foto

Dokumentasi kegiatan dalam gambar

Riwayat Kelompok P2M

Daftar kelompok yang pernah bertugas di Kaduara Barat

Kelompok P2M 18

2026/2027 GANJIL
DEWI NURHAYATI.,S.S.,M.PD. DPL: DEWI NURHAYATI.,S.S.,M.PD.
ABELIA PUTRI ABELIA PUTRI
EVITA DEWI EVITA DEWI
FATNAH SHOFIYYAH FATNAH SHOFIYYAH
FIYA SOFIATUL  FU'ADAH FIYA SOFIATUL FU'ADAH
KHOIRIYAH NAFISAH KHOIRIYAH NAFISAH
MARIYATUL QIBTIYAH MARIYATUL QIBTIYAH
NUR AINI NUR AINI
NUR JALILAH NUR JALILAH
RAHMATUN NAZILAH RAHMATUN NAZILAH
RIZQIYAH RIZQIYAH
SIRTU PILAILI SIRTU PILAILI

Kontak & Lokasi