Sejarah Desa
Desa Karduluk memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan tradisi seni ukir yang hingga kini menjadi identitas masyarakatnya. Berdasarkan dokumen RPJMDes, terdapat dua versi mengenai asal-usul nama Karduluk. Versi pertama menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari kata Sekar (bunga) dan Duluk (subur), yang dimaknai sebagai "bunga yang tumbuh subur." Sementara versi kedua mengaitkannya dengan kata ngekar dalam bahasa Madura yang berarti membuat sketsa ukiran, dipadukan dengan kata duluk yang bermakna indah atau subur. Makna inilah yang kemudian melekat pada karakter masyarakat Karduluk sebagai pengrajin ukir. Legenda yang berkembang di tengah masyarakat berkisah tentang Pramanggoro (Prabangkara), seorang seniman pada masa Kerajaan Majapahit yang terkenal karena keahliannya melukis dan membuat ukiran. Setelah melalui berbagai peristiwa di istana, ia menciptakan sebuah layang-layang raksasa yang dihiasi sketsa ukiran. Layang-layang tersebut kemudian terbang hingga singgah di wilayah yang kini dikenal sebagai Karduluk. Sejak saat itu, masyarakat dipercaya mewarisi keterampilan membuat sketsa dan ukiran kayu, yang terus berkembang hingga menjadi warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Pada awalnya, Karduluk masih berupa sebuah pedukuhan yang berada di kawasan yang kini termasuk Dusun Somangkaan. Wilayah ini dikenal sebagai daerah para pengukir (koel), sehingga lambat laun nama Karduluk semakin dikenal dan berkembang menjadi desa seperti saat ini. Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Karduluk telah dipimpin oleh berbagai tokoh yang berperan dalam membangun desa, mulai dari penataan administrasi pemerintahan, penguatan pendidikan dan kehidupan keagamaan, hingga pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, balai desa, dan fasilitas umum lainnya. Berbagai capaian tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan Karduluk sebagai desa yang tetap menjaga nilai budaya sekaligus terus beradaptasi dengan kebutuhan pembangunan modern. Hingga kini, Karduluk dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan ukir kayu di Kabupaten Sumenep. Keahlian mengukir yang diwariskan secara turun-temurun menjadi identitas desa sekaligus potensi unggulan yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pelestarian budaya lokal.




