
Jubadha, jajanan khas Desa Karduluk berbahan gula merah, tepung jagung, tepung terigu, dan jahe, kini menghadapi tantangan regenerasi. Dari penuturan salah satu pelaku usaha, hanya tersisa empat warga yang masih memproduksi jajanan tradisional tanpa bahan pengawet kimia tersebut. Melalui kunjungan ke rumah produksi Sum di Dusun Blajud, Mahasiswa P2M UNIA Kelompok VI mengenal proses produksi sekaligus melihat potensi Jubadha sebagai bagian dari identitas kuliner dan ekonomi lokal Karduluk. Keberadaan jajanan ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak kehilangan penerus di masa mendatang.
Karduluk, 29 Juli 2026 – Di balik bentuknya yang mungil menyerupai permen, Jubadha menyimpan cerita tentang salah satu jajanan khas yang menjadi bagian dari identitas kuliner Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Namun, keberadaan jajanan tradisional ini kini menghadapi tantangan regenerasi. Berdasarkan penuturan salah satu pelaku usaha, saat ini hanya tersisa empat warga yang masih bertahan memproduksi Jubadha.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Mahasiswa Program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA) Kelompok VI saat mengunjungi rumah produksi milik Sum, salah seorang warga Dusun Blajud, Desa Karduluk, pada Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Kunjungan ini merupakan bagian dari implementasi program kerja penguatan potensi Desa Karduluk sekaligus upaya mahasiswa untuk mengenal lebih jauh potensi lokal, proses produksi, serta keberlanjutan jajanan tradisional yang masih dipertahankan masyarakat.
Jubadha dibuat dari bahan utama gula merah, tepung jagung, tepung terigu, dan jahe. Jajanan ini memiliki bentuk kecil dan mungil dengan warna khas gula merah serta cita rasa jahe. Dalam proses penyajiannya, Jubadha diikat menggunakan daun siwalan agar bentuknya tetap terjaga. Menariknya, jajanan ini tidak menggunakan bahan pengawet kimia. Untuk menjaga daya tahannya, Jubadha terlebih dahulu dijemur sebelum dikemas dan dipasarkan.
Proses produksi biasanya dimulai sejak pagi dengan pembuatan adonan, kemudian dilanjutkan dengan proses penjemuran hingga menjelang sore. Setelah cukup kering, Jubadha dikemas menggunakan wadah mika yang berisi sekitar 12 hingga 15 buah dengan harga Rp2.000 per kemasan. Produk tersebut kemudian dipasarkan melalui pedagang oleh-oleh khas Madura di sekitar wilayah Prenduan.
Tanpa menggunakan bahan pengawet kimia, Jubadha dapat bertahan hingga sekitar satu bulan dengan kualitas yang relatif sama. Penggunaan bahan-bahan lokal juga menjadi salah satu alasan mengapa jajanan ini lekat dengan identitas Desa Karduluk. Salah satunya adalah daun siwalan yang digunakan dalam proses pengemasan, mengingat pohon siwalan tumbuh cukup banyak di wilayah tersebut dan hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Di balik keberlangsungannya, Jubadha menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Menurunnya minat generasi muda untuk meneruskan produksi menjadi salah satu penyebab semakin sedikitnya rumah yang masih memproduksi jajanan tersebut. Dari jumlah yang terus berkurang, kini hanya empat warga yang diketahui masih bertahan membuat Jubadha.
Sum menjadi salah satu warga yang tetap mempertahankan produksi karena masih adanya permintaan dari konsumen. Selain dikonsumsi sebagai camilan, Jubadha juga kerap dipesan untuk dibawa sebagai oleh-oleh ketika masyarakat hendak melaksanakan ibadah umrah atau haji. Bentuknya yang kecil menyerupai permen membuatnya praktis untuk dibawa dan dinikmati di sela-sela aktivitas.
Bagi Mahasiswa P2M UNIA Kelompok VI, kunjungan tersebut memberikan gambaran bahwa potensi Desa Karduluk tidak hanya terletak pada seni ukir, gula merah, dan kerajinan tikar anyam. Jubadha juga menjadi bagian dari kekayaan lokal yang memiliki cerita, nilai budaya, serta peluang ekonomi yang perlu diperhatikan keberlanjutannya.
Di tengah semakin sedikitnya masyarakat yang memproduksi Jubadha, keberadaan jajanan khas tersebut menjadi momentum bagi berbagai pihak untuk ikut mengenalkan dan menjaga keberlangsungannya. Upaya memperkenalkan Jubadha kepada generasi muda, membuka ruang inovasi, hingga mengembangkan pemasaran yang lebih luas diharapkan dapat menjadi langkah untuk menjaga agar jajanan khas Karduluk ini tidak berhenti pada generasi saat ini, tetapi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


