Berita Desa

Menjaga Potensi Lokal, Pengrajin Karduluk Bertahan Lewat Kerajinan Tikar Daun Siwalan

Sabtu, 25 Juli 2026 Desa Karduluk
Menjaga Potensi Lokal, Pengrajin Karduluk Bertahan Lewat Kerajinan Tikar Daun Siwalan

Di balik hamparan daun siwalan, tersimpan potensi kerajinan lokal yang masih dipertahankan masyarakat Desa Karduluk. Melalui kunjungan ke rumah produksi Hanafi di Dusun Daleman, Mahasiswa P2M UNIA Kelompok VI mengenal proses pembuatan tikar anyam yang dimanfaatkan sebagai pembungkus tembakau, mulai dari pengolahan bahan hingga proses penganyaman. Kunjungan ini menjadi pengalaman untuk melihat secara langsung bagaimana keterampilan tradisional tetap memiliki nilai ekonomi dan bertahan mengikuti kebutuhan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kekayaan potensi lokal Desa Karduluk.

Karduluk, 24 Juli 2026 – Di tengah perkembangan usaha mikro yang semakin memanfaatkan pemasaran digital, sebagian masyarakat Desa Karduluk masih mempertahankan kerajinan tradisional yang memanfaatkan potensi alam di sekitar mereka. Salah satunya adalah kerajinan tikar anyam dari daun pohon siwalan yang diproduksi oleh Hanafi, warga Dusun Daleman, Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.

Hal tersebut diketahui saat Mahasiswa Program Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA) Kelompok VI mengunjungi rumah produksi tikar anyam milik Hanafi pada Jumat (24/7/2026) pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa mengenal lebih dekat potensi lokal Desa Karduluk setelah mendapatkan rekomendasi dari Kepala Desa Karduluk.

Dalam kesehariannya, Hanafi juga berprofesi sebagai pengukir di salah satu UMKM mebel di Desa Karduluk. Sementara itu, produksi tikar anyam dijadikannya sebagai pekerjaan sampingan yang dikerjakan pada malam hari. Menurut penuturannya, proses pembuatan tikar dimulai dari pengadaan bahan dasar berupa daun pohon siwalan. Jika mengambil sendiri, proses tersebut dapat menghabiskan waktu sehari penuh dari pagi hingga sore. Namun, bahan baku juga dapat diperoleh melalui jasa orang lain dengan biaya sekitar Rp20.000.

Proses menganyam biasanya dilakukan pada malam hari ketika tekstur daun siwalan menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah dibentuk. Satu lembar tikar berukuran sekitar 1,6 x 3 meter dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua jam jika dikerjakan oleh dua orang. Tikar tersebut umumnya digunakan sebagai pembungkus tanaman tembakau dan dijual dalam bentuk gulungan yang berisi 10 lembar dengan harga berkisar antara Rp50.000 hingga Rp65.000 per lembar.

Menariknya, kualitas tikar juga dipengaruhi oleh jenis daun siwalan yang digunakan. Hanafi menjelaskan bahwa daun siwalan berwarna putih menghasilkan tikar yang lebih kuat dan tahan lama dibandingkan daun yang berwarna kuning. Perbedaan kualitas tersebut turut memengaruhi nilai jual dari tikar yang dihasilkan.

Pemesanan tikar biasanya mengalami peningkatan ketika memasuki musim kemarau, bertepatan dengan masa petani mulai menanam dan mengolah tembakau. Tikar tersebut digunakan untuk membungkus tembakau sebelum dikirim ke pabrik-pabrik besar. Pada masa tersebut, Hanafi dapat menerima pesanan hingga belasan gulung tikar, bahkan pengiriman dalam jumlah besar juga dilakukan bersama para pengrajin lainnya.

Tidak hanya memproduksi tikar baru, Hanafi juga menerima jasa perbaikan tikar yang mengalami kerusakan pada bagian anyamannya. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa P2M juga dipersilakan untuk mencoba secara langsung proses menganyam daun siwalan menjadi tikar. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa di balik sebuah kerajinan sederhana terdapat keterampilan, ketekunan, dan pengetahuan yang diwariskan serta terus dipertahankan oleh masyarakat.

Bagi Mahasiswa P2M UNIA Kelompok VI, kunjungan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk melihat secara langsung salah satu potensi lokal Desa Karduluk sekaligus memahami bagaimana masyarakat mempertahankan usaha yang berbasis pada sumber daya alam di sekitar mereka. Meski perkembangan pemasaran digital semakin luas, kerajinan tikar daun siwalan tetap memiliki tempat tersendiri karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam aktivitas pertanian tembakau.

Kunjungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa potensi lokal Desa Karduluk tidak hanya berasal dari seni ukir, tetapi juga dari berbagai kerajinan yang memanfaatkan kekayaan alam setempat. Melalui pengenalan dan dokumentasi potensi tersebut, mahasiswa berharap berbagai produk lokal Desa Karduluk dapat terus dikenal dan dipertahankan sebagai bagian dari identitas serta kekuatan ekonomi masyarakat setempat.

Kembali ke Berita Diperbarui 25 Juli 2026