Sejarah Desa
Sebelum menjadi salah satu desa diwilayah administratif Kecamatan Saronggi, Desa Saroka memiliki cerita yang panjang. Cerita ini merupakan cerita secara turun temurun dari para leluhur masyarakat desa Saroka. Cerita ini bermula dari kali Saroka atau sungai Saroka yang mengalir di sepanjang Desa Saroka. Konon, sungai yang bermuara ke laut jawa ini merupakan tempat berlalu lalang masyarakat. Segala aktivitas dilakukan diatas perahu. Mulai dari mencari ikan, menjual belikan bahan makanan, hingga ketika ingin menuju ke suatu tempat juga melalui jalur sungai. Suatu hari, terdapat dua nelayan yang sedang pergi untuk mencari ikan. Sebab arus yang terlalu deras, perahu mereka turut terbawa. Perahu mereka bertabrakan. Tidak dapat dihindari, adu mulut diantara keduanya pun terjadi. Kejadian tersebut di beri nama tasarok dha’ dhika atau jika dalam Bahasa Indonesia ialah terbenturnya dua perahu. Kemudian, hal tersebut di singkat menjadi Saroka. Sepanjang aliran sungai yang berawal dari pertemuan dua perahu tersebut di sebut Kali Saroka. Sedangkan pemukiman yang berada di sepanjang arus sungai disebut Desa Saroka. Secara histori birokrasi Desa Saroka pertama kali di pimpin oleh Agung Sajidin, tidak diketahui secara pasti kapan agung sajidin mulai menjabat menjadi kepala desa. Tetapi masa jabatan agung sajidin ditandai dengan adanya batu ampar dan pembangunan sumur yang berada di dusun Temor Leke. Sumur itu dikenal sebagai sumber kekuatan atau pegangan masyarakat Desa Saroka hingga saat ini. Setelah Agung Sajidin lengser menjadi kepala desa, kepemimpinan dilanjutkan oleh Juju Bi’ullah yang juga merupakan putra dari Agung Sajidin. Pada periode ini juga tidak diketahui tahun berapa.Kemudian, kepala desa ketiga ialah Kaedanafi yang juga merupakan putra dari Juju Bi’ullah dan cucu dari Agung Sajidin. Setelah selesai masa jabatan, kepala desa digantikan oleh Wongsonegoro putra dari Kaedanafi. Sistem kepemimpinan secara monarki ini terputus setelah kepala desa kelima adalah Juha. Ia bukan berasal dari keturunan Agung Sajidin. Sayangnya, kepemimpinan Juha hanya berlangsung 6 bulan. Hal tersebut dikarenakan kematian Juha yang konon katanya sebab diguna-guna. Selanjutnya, kepala desa dijabat kembali oleh Wongsonegoro. Tetapi karena usia yang semakin tua, fisiknya juga tidak sekuat dulu. Maka, Wongsonegoro diganti dengan penanggung jawab sementara yakni Abd. Rafi’ hingga tahun 1984. Pada tahun 1984 hingga 2003 Desa Saroka dipimpin oleh Idi Suparto, pada masa tersebut belum tercantum peraturan jabatan hanya 5 tahun. Peraturan tersebut muncul ketika masa jabatan Bambang Sutejo yang menjabat mulai tahun 2003 hingga 2008. Selanjutnya, pada tahun 20082014 dipimpin oleh Moh. Amir. Dan tahun 2014 hingga saat ini dipimpin oleh Yudho Amujahid yang juga masih merupakan anak dari Idi Suparto.dan pada saat ini kepemerintahan di pimpin oleh bapak Adifatur Rahman,S.Sos. Desa Saroka adalah salah satu desa diwilayah administratif Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Luas daerah ini yang mencapai 2,55 Hektar dengan jumlah penduduk sekitar 2.145 Jiwa. Mayoritas penduduknya memeluk agama islam, sehingga tradisi masyarakat tidak terlepas dari nilai-nilai kebudayaan islam. Diantaranya ada kesenian hadrah. Desa Saroka terletak di dataran rendah sehingga sebagian masyarakatnya hidup dari hasil perkebunan dan sebagian lagi terdiri dari pegawai negri. Meskipun begitu, empat dusun di Desa Saroka yang meliputi: Mara’an, Paddheg, Gulungan, dan Temor Leke memiliki berbagai potensi unggulan masing-masing. Mulai dari perkebunan hingga pariwisata. Sumber daya alam yang menjadi potensi unggulan Desa Saroka sebagian besar berasal dari sektor perkebunan. Diantaranya singkong, tembakau, jagung dan biji saga. Masyarakat memanfaatkan sebagai produk olahan menjadi kripik kepeng, kripik singkong, kripik gadung, dan sebagainya. Desa Saroka merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Desa ini memiliki karakteristik masyarakat pedesaan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta kehidupan sosial yang harmonis. Sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, sehingga aktivitas ekonomi desa sangat dipengaruhi oleh hasil pertanian dan kondisi musim. Dalam kehidupan bermasyarakat, masyarakat Desa Saroka dikenal memiliki tingkat religiusitas yang baik. Aktivitas keagamaan berlangsung secara rutin melalui masjid, musala, serta lembaga pendidikan keagamaan yang ada di desa.

